Ironis Pasar Kaget Alun-alun Tak Diminati, Pedagang Cueki Imbauan Bupati Bengkulu Utara

oleh -213 views
Pasar Kaget imbauan Bupati Bengkulu Utara

BENGKULU UTARA, Sigaponline.com – Menarik, di Kabupaten Bengkulu Utara, imbauan Bupati BU Ir. Mi’an atas nama Pemkab BU, terkesan dicueki para pedagang. Bagaimana tidak, program Mi’an yang sebelumnya pasca kebakaran, memindahkan pasar kaget ramadhan di Alun-alun Rajo Malim Paduko, tepatnya didepan gedung Sahri Romli, tidak diminati pedagang. Hal ini terlihat, dari pantauan awak media dimana hari pertama puasa, sama sekali tidak ada pedagang takjil yang mengisi tempat di pasar kaget bentukan Dinas Perdagangan BU tersebut. Padahal, Pemkab BU telah menyediakan lapak untuk pedagang yang sangat memadai, seperti tenda dan penerangan.

Keinginan Bupati BU ini, jelas tidak diindahkan oleh para pedagang, bukan karena tana sebab. Paslanya, alasan pedagag ini adalah transportasi dan rentang jarak yang dinilai pedagang tidak memberikan keuntungan apapun, justru menambah pengeluaran yang berlebih, terlebih bagi pedagang yang tidak memiliki kendaraan sendiri.

“Gimana mau berjualan di lokasi baru pak, sementara dagangan kami berbagai macam seperti gulai, sambal dan lain sebagainya. Ini sangat membutuhkan cos berlebih untuk angkutannya pak. Karena letaknya yang dinilai sangat jauh untuk kami membawa dagangan kami. Belum lagi, dampaknya yang bisa menyebabkan dagangan kami tumpah,” ujar Renni yang menjajakan dagangan masakan siap saji.

Renni juga menambahkan, yang menjadi kendalanya juga, tidak adanya transportasi memadai untuk mengangkut dagangannya. Jika menggunakan Becak Motor (Bentor) tentunya akan menambah biaya. Sementara disisi lain, hal yang serupa pernah dilakukan oleh Kepala Daerah lain, dengan memindahkan pasar kaget ke wilayah alun-alun, namun hasilnya lebih besarlah pengeluaran dibanding pemasukan, ibarat pepatah, “Besak Pasak Pada Tiang”.

“Itu yang membuat minat pedagang, enggan mengisi lapak disitu pak,” tambahnya.

Lain lagi disampaikan pembeli, seperti disebutkan Lia Jenita. Ia yang merupakan langganan takjil setiap bulan Ramadhan ini, mengaku kurang juga setuju jika para pedagang takjil di pisahkan dari pasar utama yakni pasar Purwodadi Arga Makmur. Karena, baginya ketika membeli takjil, kerap menyinggahi pedagang sayuran mentah untuk kebutuhan sahur. Sehingga, jika rentang jarak ini terpisah, yang mebuat para pembeli hanya dapat membei takjil, tidak serta punya pilihan lain, juga keberatan jika pasar ramadhan dipindah ke lokasi Alun-alun.

“Kami membeli takjil bukan semata-mata untuk membeli takjil saja, tetapi ingin membeli barang mentah untuk buat sendiri dirumah. Nah, jika pasar Ramadhan ditempatkan dilokasi didepan gedung Sahri Romli. Apakah, ada yang jual barang mentah seperti, cabe kriting, bawang, sayur – sayuran dan lain sebagainya?. Tentu jawabannya tidak, karena lokasinya tidak memungkinkan. Untuk itu, kami menilai semestinya pemerintah itu sebelum mengambil kebijakan, alangkah baiknya untuk dilakukan kajian terlebih dahulu, terutama mengenai lokasi. Itu sangat sensitive loh buat pedagang. Jangan, hanya karena alasan relokasi, kebijakan membuat pasar ramadhan dipindah tanpa dibahas dengan para pedagang. Coba dibahas dulu, pastinya nggak seperti ini kejadiannya, ini sudha mengeluarkan anggaran pemerintah, namun justru tidak bermanfaat, tentu nggak baikan hasilnya. Coba, ikuti kebijakan pemeirntah sebelumnya membuat pasar di sepanjang jalan, tentu lebih bermanfaat,” demikian Lia.(ADRS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *