Terjerat Kasus Pemotongan Uang Pengawas Ujian, Mantan Kabid Ditahan

SIGAP ONLINE – Setelah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemotongan uang pengawas ruang ujian nasional (UN) tahun anggaran 2017, AT langsung ditahan oleh Kejaksaan Negeri Tubei. Dia mulai ditahan pada Selasa siang (27/8/2019) siang. Pada saat melakukan pemotongan itu tersangka AT selaku Kabid di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebong.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Tubei, Eddy Sugandi Tahir, SH mengatakan, dari hasil pemeriksaan beberapa waktu lalu, diduga kuat tersangka AT telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri dengan melakukan pemotongan uang pengawas UN sebesar 50 persen dari total anggaran atau senilai Rp 100 juta.

“Iya dari hasil pemeriksaan, diduga kuat AT telah melakukan tindak kejahatan memperkaya diri sendiri, AT sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan kita langsung lakukan penahanan,” jelasnya.

Diakui pula, pihaknya akan melakukan pengembangan lebih lanjut. Tapi sejauh ini dari pengakuan yang dibeberkan tersangka belum bisa dijadikan bahan untuk menetapkan tersangka lain. Tapi tidak menutup kemungkinan nanti akan ada tersangka baru dalam perkara tersebut.

“Sejauh ini baru satu tersangka, nanti kita kembangkan lagi, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain yang menyusul tergantung dari pengembangan nanti,” imbuhnya.

AT Sebut, Akan Bongkar Perkara di Dinas Dikbud Lebong

Menariknya, saat digiring oleh petugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, tersangka AT mengatakan kepada awak media, dirinya akan membuka semua perkara yang ada di Disdikbud Lebong. Disebut oleh AT, bahwa di Disdikbud Lebong banyak perkara yang lebih besar belum tersentuh hukum.

Kata Dia, jika memang mau menegakkan hukum, bukan hanya dia yang diseret tapi banyak oknum lainnya. Sebab, pemotongan tersebut berawal dari bendahara yang memotong anggaran kegiatan mengawas UN atas perintah Kepala Dinas dengan modus untuk saving, lantaran sudah dipotong terlebih dahulu, otomatis anggaran berkurang.

Dengan sisa anggaran yang ada, maka terpaksa dirinya pun ikut memotong, lantaran ketersediaan anggaran memang sudah berkurang dari nilai semestinya.

Ditegaskan olehnya, uang tersebut sudah dibayarkan olehnya kepada masing-masing kepala sekolah, tapi yang jadi permasalahan banyak kepala sekolah yang tidak memabayarkan kepada guru pengawasnya.

Menurut dia, itu bisa dibuktikan dengan pengakuan para guru pengawas di atas materai, yang menyatakan bahwa kepala sekolah tidak membayarkan uang ngawas kepada para pengawas UN.

“Saya nilai ini tidak adil, kenapa saya sendiri yang diseret, apakah bendahara, kadis, dan Kepala Sekolah tidak termasuk melakukan tindak pidana memperkaya diri sendiri,” cetusnya.

Tersangka sempat meminta pihak penegak hukum, supaya mengusut tuntas perkara ini, jangan hanya tajam sepihak.

“Saya harap usut tuntas perkara ini sampai ke akar-akarnya dan seadil-adilnya, jangan jadikan saya tumbal untuk melindungi yang lain,” tukasnya. (Go)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*